Sebuah Dilema

Sebuah dilema, saat Malaysia ingin membakukan bahasa Melayu sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Indonesia yang baku sendiri tidak dipergunakan lagi dengan ramai oleh orang-orang Indonesia sendiri. Padahal, rujukan pembakuan bahasa Melayu itu didapatkan setelah melihat bahasa Indonesia yang baku.

Adalah seharusnya kita berbangga hati, mempunyai sebuah bahasa yang sangat baku, mudah penggunaannya, dan mempunyai tata bahasa yang indah. Adalah seharusnya kita berbangga hati bahwa bahasa kita bahkan dipelajari hingga ke benua Australia sebagai sebuah studi. Namun saat ini banyak sekali dari kita yang tidak suka mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia yang baku, yang merupakan bahasa resmi di tanah air kita ini.

Entah bagaimana lagi mengubah sesuatu yang dilematis ini menjadi lebih baik lagi, karena melihat sudah banyak usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak. Namun, hasil yang dicapai tetap nihil, dan bahasa kita terus saja tergerus oleh tren penggunaan bahasa “pasaran” yang jauh dari tata bahasa baku bahasa kita.

3 Tanggapan ke “Sebuah Dilema”

  1. bahasa kan katanya mencerminkan karakter bangsa. berarti karakter bangsa kita kebanyakan “pasaran” aja. begitulah bangsa pasar kali… :mrgreen:

  2. Mungkin saja… Tapi memang kecenderungan semua bahasa arahnya ke bahasa pasaran (lingua franca) kok, tidak hanya bahasa Indonesia saja namun bahasa sekaliber bahasa Inggris dan bahasa Arab juga kecenderungannya ke situ.

  3. Arus informasi teknologi khususnya internet juga mempengaruhi penggunaan bahasa baku di Indonesia. Dalam forum2 internet kita sering melihat penggunaan bahasa2 yang tidak lazim (gaul). Pantaslah apabila bung Karno pernah berkata: “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasanya.”

    salam kenal……..

Tinggalkan Balasan