Bahasa dan Keberagaman
Bahasa, adalah sebuah ungkapan manusia, baik secara lisan maupun tulis, yang ditujukan untuk saling berhubungan dan saling memberi pengertian satu sama lain tentang berbagai hal. Bahasa adalah biasanya berbeda, tergantung pada karakteristika daerah yang ada serta dipengaruhi juga oleh keadaan alam.
Hal yang sering terjadi adalah pada satu cakupan daerah administrasi atau daerah kepemerintahan, terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan penduduk setempat. Contoh saja, beberapa negara di Asia, Afrika, dan Amerika yang mempunyai wilayah yang luas seperti Cina, Indonesia, Kanada, India, Malaysia, Rusia, Arab Saudi, dsb. Dari hal tersebut, beberapa negara memutuskan untuk membuat bahasa standar yang dipergunakan sebagai bahasa resmi bagi negara yang bersangkutan. Bahasa tersebut dapat diambil dari bahasa dengan penutur terbanyak dalam negara tersebut (Misalnya bahasa Mandarin, bahasa Melayu, bahasa Urdu) maupun dengan mengkombinasikan kesemua bahasa tersebut kepada suatu bahasa baru (misalnya bahasa Indonesia, bahasa Arab)
Penggunaan bahasa-bahasa persatuan (lingua franca) tersebut kadangkala bisa mematikan bahasa-bahasa daerah yang dicakupnya. Taruhlah pada bangsa Indonesia sendiri, kecenderungan memakai bahasa Indonesia baku sesuai ejaan yang disempurnakan telah dengan sukses membuat beberapa bahasa yang sudah hampir punah semakin kehilangan penutur (misalnya bahasa-bahasa di daerah Nusa Tenggara dan kepulauan Maluku). Padahal keberagaman bahasa tersebut sebetulnya menjadikan daya tarik tersendiri bagi Indonesia di mata dunia.
Beberapa upaya sudah dilakukan untuk menyelamatkan keberagaman bahasa tersebut. Di antaranya, di Kanada telah berdiri institut yang mempelajari khusus bahasa-bahasa etnis suku-suku eskimo, dan itu ternyata lumayan berhasil menyelamatkan bahasa etnis di sana dari kepunahan. Indonesia, kapan?
(Saya terpikirkan judul ini dikarenakan mendengar lagunya SIti Nurhaliza yang berjudul Kurik Kundi. Sekadar pengantar, lagu ini bertemakan keagungan karya pantun rakyat Malaysia, disyairkan dengan berbagai macam bahasa etnis Malaysia. Beberapa bahasa rakyat Malaysia ternyata jauh juga dari kosakata bahasa Melayu standar, sehingga tidak dapat saya ketahui maknannya sama sekali. Ah, semoga saja masih terlestarikan bahasa-bahasa yang hampir punah itu. Supaya syair-syair semacam Kurik Kundi dan banyak syair bahasa etnis lainnya masih bisa diketahui maknanya…)
Rabu, 23 Juli 2008 pada 23.03
saya kira tidak banyak yang paham apa manfaat melestarikan bahasa kuno. saya punya kamus Jawa Kawi, tapi kok bikinan orang asing. lha orang-orang sastra Jawa pada ke mana itu? jangan-jangan malah kerja di bank, tambang, dan bidang pekerjaan gak nyambung lainnya… masalah klasik, kerja untuk sastra Jawa gak ada duitnya, kata beberapa orang yang saya kenal
Sabtu, 26 Juli 2008 pada 9.05
Kadang malah seperti itu kok, Mas. Banyak orang yang bekerja bukan pada bidang yang dipelajari sebelumnya (mungkin termasuk saya juga nnatinya
). Soalnya, ya benar, bahwa pekerjaan yang ada kaitannya dengan pelestarian baik itu pelestarian budaya, bahasa, maupun lingkungan, tidak menghasilkan banyak uang. Sedangkan yang banyak dicari oleh orang Indonesia umumnya saat ini adalah uang atau materi. Jadi, bisa lah disimpulkan sendiri jadinya seperti apa.
Selasa, 25 November 2008 pada 21.21
salam kenal